Keperawatan di Indonesia

Program Studi Ilmu Keperawatan bertujuan untuk menghasilkan lulusan berkualitas yang dapat menjadi tenaga ahli terampil di bidang keperawatan, beriman dan bertaqwa, berintegritas tinggi, berwawasan luas, dan profesional, berdasarkan relevansi dan kebutuhan pasar melalui peningkatan kualitas penelitian dan pendidikan serta berperan serta dalam pembangunan kesehatan masyarakat. Gelar Akademik yang diperoleh adalah Sarjana Keperawatan (S.Kp)

Kurikulum

Kurikulum Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggunakan kurikulum nasional yang berbasis kepada kompetensi, yaitu terdiri dari kompetensi dasar, utama dan pendukung.

Tujuan

1) Tujuan umum

Menghasilkan profesi Ners (Ns) dengan kualifikasi akademik Sarjana Keperawatan (SKep) yang beriman dan bertaqwa, berintegritas tinggi, mempunyai keunggulan yang kompetetitif dalam persaingan global serta mampu mengintegrasikan ilmu keperawatan dan ilmu pengetahuan keislaman sehingga mampu berkontribusi dalam peningkatan kualitas derajat kesehatan bangsa Indonesia.

2) Tujuan khusus

a) Memiliki sikap profesional dan Islami b) Mampu melaksanakan asuhan keperawatan c) Mampu mengelola pelayanan keperawatan di ruang rawat inap d) Mampu melaksanakan penelitian sederhana e) Mampu berperan sebagai pendidik tenaga keperawatan yang berada di ruang lingkup tanggung jawabnya

b. Kompetensi

Kompetensi lulusan Program Studi ilmu keperawatan di FKIK Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah adalah sebagai berikut:

1) Kompetensi Dasar

a) Mampu memahami dan menerapkan nilai nilai Keislaman b) Mampu menjadi warga negara Indonesia yang baik (Kewarganegaraan) c) Mampu menggunakan bahasa Arab secara pasif d) Mampu menggunakan bahasa Inggris secara pasif dan aktif e) Mampu mengintegrasikan ilmu fiqih dalam keperawatan (Fiqih kesehatan) f) Mampu melakukan Praktek ibadah dan qiroah

2). Kompetensi Utama

a) Keterampilan keilmuan dan dasar-dasar keperawatan· Keterampilan menerapkan konsep keperawatan lintas budaya (transcultural nursing) dalam proses keperawatan· Keterampilan menerapkan konsep hubungan bantuan (Helping relationship)· Keterampilan mengumpulkan data dalam proses keperawatan· Keterampilan melakukan analisis data dalam proses keperawatan· Keterampilan merencanakan asuhan keperawatan dengan melibatkan klien dan keluarga dalam proses keperawatan· Keterampilan melaksanakan tindakan keperawatan· Keterampilan melakukan evaluasi dan revisi proses keperawatan· Keterampilan melakukan dokumentasi asuhan keperawatan· Keterampilan mengelola pelayanan keperawatan di ruang rawat inap pada kasus yang lazim terjadi· Keterampilan mengelola masalah kesehatan yang lazim terjadi pada individu, keluarga dan masyarakat · Kemampuan menjadi anggota tim dalam pelayanan kesehatan · Memiliki tanggung jawab profesional

3). Kompetensi Pendukung

a) Keterampilan memanfaatkan berbagai sumber ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi terkinib) Mampu melaksanakan Riset keperawatan tingkat pemula

Dewasa ini dunia telah menjadi terus meningkatkan kepercayaan pada berbagai teknologi untuk memenuhi kebutuhan informasi. Perkembangan teknologi informasi juga merambah dunia kesehatan. Kebutuhan layanan kesehatan juga termasuk keperawatan yang cepat, efisien dan efektif menjadi tuntutan masyarakat modern saat ini. Masyarakat menjadi semakin familier dengan dunia cyber atau media internet untuk mendapatkan informasi kesehatan. Selanjutnya keinginan berkembang menjadi harapan akan layanan kesehatan melalui media informasi canggih seperti teleconference, videoconference, call center yang memudahkan masyarakat untuk mendapatkan layanan kesehatan tanpa harus meninggalkan rumah.

Pertumbuhan Pengguna internet di Indonesia semakin meningkat. Diprediksikan pada tahun 2010 ada 54 juta pengguna internet di Indonesia. Sebuah angka yang fantastis besarnya dan meruapakn sebuah peluang bagi perawat untuk meningkatkan cakupan pelayanan keperawatan keseluruh wilayah Indonesia dengan efisiensi yang tinggi. teknologi informasi internet tersebut, istilah telemedicine, telehealth dan telenursing menjadi popular sebagai salah satu model layanan kesehatan. (Martono N. www.inna.ppni.org .2006).

Telenursing sudah diterapkan di berbagai negara seperti di Amerika, Yunani, Israel, Jepang, Italia, Denmark, Belanda, Norwegia, Jordania, India dan bahkan Malaysia. Organisasi perawat Amerika pada tahun 1999 telah merekomendasikan pengembangan analisa komprehensif penggunaan telenursing. Di Amerika Serikat, 36% peningkatan kebutuhan perawat home care dalam 7 tahun mendatang dapat ditanggulangi dengan telenursing dan di negara lainpun dilaporkan telah menggunakan pelayanan telekomunikasi di rumah untuk perawatan home care dengan telenursing.

Layanan kesehatan khususnya keperawatan jarak jauh dengan menggunakan media teknologi informatika (internet) memberikan kemudahan bagi masyarakat. Masyarakat atau pasien tidak perlu datang ke rumah sakit, dokter atau perawat untuk mendapatkan layanan kesehatan. Waktu yang diperlukan untuk layanan kesehatan juga semakin pendek. Pasien dapat hanya dirumah dan melakukan kontak via internet atau melalui video converence untuk mendapatkan informasi kesehatan, perawatan dan bahkan sampai pengobatan. Banyak manfaat lain bila kita menggunakan teknologi dalam layanan keperawatan jarak jauh (Telenuring )diantaranya:

  1. Efektif dan efisien dalam segi biaya keperawatan.
  2. Dengan sumber daya minimal dapat meninggkatkan cakupan dan jangkauan pelayanan keperawatan tanpa batas geografis
  3. Dapat mengurangi jumlah kunjungan dan lama hari rawat di rumah sakit
  4. Dapat dimanfaatkan dalam bidang pendidikan keperawatan ( model distance learning) dan perkembangan riset keperawatan berbasis informatika kesehatan. Telenursing dapat juga digunakan dikampus dengan video conference, pembelajaran on line dan Multimedia Distance Learning.

Selain itu telekomonuikasi elektronikal merupakan akses terbaik untuk kesempatan pendidikan, metode baru dalam pendokumentasian, peningkatan akses informasi, pengembangkan kemampuan pengambilan keputusan yang dapat membantu melakukan perubahan dalam profesionalisasi perawat.

Praktik keperawatan jarak jauh (telenursing) di Indonesia belum berkembang seperti di Negara-negara maju seperti di Amerika atau Australia. Penggunaan telenursing di Indonesia masih terbatas pada area pendidikan seperti yang dikembangkan di UGM melalui program e-learning atau model e-lisa yang terintegrasi di semua fakultas UGM dan beberapa universitas swasta lainnya.

Baru-baru ini di Indonesia berdiri organisasi yang bergerak dalam layanan asuhan keperawatan di rumah ( Home Care.) Home care di Indonesia belum menggunakan system Telenursing, akan tetapi masih bersifat home visit, artinya perawat mendatangi rumah-rumah pasien untuk dilakukan perawatan secara langsung tidak menggunakan jasa teknologi canggih. Media yang digunakan masih sebatas penggunaan media telepon sebagai call center. Itupun masih terbatas pada kota-kota besar, kota – kota kabupaten belum tersentuh layanan home care.

Asuhan keperawatan model ini ( home care ) sebenarnya bisa dikatakan sebagai layanan asuhan keperawatan jarak jauh ( telenursing) walaupun sangat sederhana. Setidaknya organisai profesi dapat segera membangun konsep pengembangan layanan perawatan jarak jauh dengan mengembangkan Home Care yang sudah mulai berjalan dengan meningkatkan cakupan layanan ke daerah-daerah dan pada akhirnya kita benar-benar bisa mengembangkan layanan melalui penggunaan fasilitas teknologi yang lebih canggih.

Yang perlu disiapkan adalah bagaimana menjawab pertanyaan tentang legalitas daripada layanan kesehatan ( keperawatan jarak jauh) sebagai berikut : Apakah menurut praktisi perawatan dan profesi perawatan, perawatan yang disajikan secara elektronis jarak jauh merupakan praktek ilmu perawatan. Apakah asuhan perawatan dengan tanpa sentuhan tangan perawat dan hanya menggunakan komunikasi telekonference sudah dapat dikatakan sebagai asuhan keperawatan yang legal?

Sebenarnya pertanyaan tersebut sudah terjawab bila kita mendasari dengan cara kerja Telenursing, dimana perawat menggunakan pengetahuan, ketrampilan, pertimbangan dan pemikiran kritis yang yang tidak bisa dipisahkan di (dalam) ilmu Pendidikan perawatan. Aktivitas tersebut sudah dapat diberikan Lisensi melakukan asuhan keperawatan. Definisi legal ilmu perawatan hampir selalu meliputi 1) Penggunaan ilmu perawatan pendidikan, 2) Pemikiran kritis, dan 3) Pengambilan keputusan. Jadi jelaslah bahwa Telenursing merupakan peluang kerja profesi keperawatan yang legal. Tentunya dukungan organisai profesi dalam perijinan sangat dibutuhkan.

MENARIK sekali menyimak aksi mahasiswa S1 Keperawatan se-Jawa Tengah, Kamis, 7 Juni dan Sabtu, 16 Juni 2007, di Semarang. Suara Merdeka memberitakan aksi itu dengan judul “Demo Tolak D4 Keperawatan”. Dasar penataan pendidikan perawat adalah menuju tatanan profesionalisme dan globalisasi. Profesionalisme menuntut perawat harus menyelesaikan pendidikan akademik dan profesional, sebagaimana profesi kesehatan lain yang telah berkembang, seperti dokter, dokter gigi, apoteker, dan psikolog.

Saat ini sebagian besar pendidikan perawat adalah vokasional (D3 Keperawatan), sebagian kecil yang ners dan spesialis. Bahkan masih ada yang SPK (setingkat SLTA). Rendahnya pendidikan perawat, menjadi penyebab rendahnya kualitas pelayanan keperawatan dan daya saing perawat kita dibandingkan dengan perawat asing. Padahal, jumlah terbesar dari profesional kesehatan adalah perawat.

Rendahnya pendidikan perawat tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkembangannya. Perkembangan keperawatan di Indonesia mengadopsi pelayanan keperawatan di Belanda, yakni profesi perawat lahir karena pelayanan kemanusiaan, seperti biarawati. Oleh karena itu, pendidikan keperawatannya kurang berkembang dibandingkan dengan negara-negara Commonwealth.

Di Inggris, pendidikan keperawatan telah berkembang dengan baik melalui perguruan tinggi sejak 1868. Dengan demikian, tatanan profesionalisme dan pelayanan keperawatannya sangat maju.

Di Indonesia, perawat didesain untuk membantu dokter, sehingga peran dan fungsinya bergeser dari pelayanan keperawatan. Hasil penelitian Depkes dan Universitas Indonesia (UI) menunjukkan lebih dari 90% perawat melakukan tugas nonkeperawatan (menetapkan diagnosis penyakit, membuat resep obat, melakukan tindakan pengobatan). Hanya 50% yang melakukan asuhan keperawatan sesuai dengan peran dan fungsinya.

Uji Kompetensi

Di sisi lain, International Council of Nursing (ICN) menuntut seorang perawat yang akan memberikan pelayanan harus melalui sertifikasi dan uji kompetensi untuk memperoleh register nurse (RN). Untuk uji RN, seseorang harus menyelesaikan pendidikan ners. Dengan demikian, secara international standar pendidikan dasar profesi perawat harus pendidikan ners. Perawat yang lulus RN berhak bekerja di semua negara. Saat ini perawat kita sulit masuk ke negara lain karena tidak memiliki RN.

Bila ada perawat kita yang bekerja di negara-negara Timur Tengah, mereka adalah perawat vokasional. Penghargaannya lebih rendah dibandingkan dengan perawat Filipina atau India, yang telah bersertifikasi secara internasional.

Demikian juga regulasi perawat di dalam negeri. Banyak perawat asing yang akan masuk ke Indonesia. Mereka memiliki standar kompetensi yang tinggi dan tanggung jawab moral yang baik. Bila kita tidak mengantisipasi, maka kehadiran mereka dapat menjadi ancaman bagi kita, dan kita akan menjadi tamu di negeri sendiri. Guna mengantisipasi ancaman itu, dibutuhkan sistem penataan pendidikan tinggi keperawatan yang baik.

Alur Pendidikan

Dasar Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) menata jenis dan jenjang pendidikan keperawatan adalah Undang-Undang (UU) 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Untuk menjadi perawat profesional (RN), lulusan SLTA harus menempuh pendidikan akademik S1 Keperawatan dan Profesi Ners. Tetapi bila ingin menjadi perawat vokasional, (primary nurse) dapat mengambil D3 Keperawatan/Akademi Keperawatan.

Lulusan SPK yang masih ingin menjadi perawat harus segera ke D3 atau langsung ke S1 Keperawatan. Selanjutnya, lulusan D3 Keperawatan dapat melanjutkan ke S1 Keperawatan dan Ners. Dari pendidikan S1 dan Ners, baru ke Magister Keperawatan/spesialis dan Doktor/Konsultan. Diharapkan pada 2015, sebagian besar tenaga keperawatan adalah S1 Keperawatan dan Ners. Oleh karena itu, PPNI sangat mengharapkan perawat vokasional meneruskan pendidikannya ke S1 Keperawatan dan Ners.

Pendidikan Profesional

Ada beberapa alasan mengapa tidak ada jenjang D4 Keperawatan? Pertama, tuntutan dan kebutuhan tenaga profesional perawat dalam menghadapi era globalisasi. Perawat adalah profesi, sebagaimana deklarasi dalam lokarkarya nasional 1983. Dasar pendidikannya harus pendidikan profesional.

Kedua, semakin banyak jenis dan jenjang pendidikan perawat vokasional akan menyulitkan pengaturan kompetensinya. Perbedaan kompetensi dan kewenangan antara D3, D4, dan Ners bagaimana? Ketiga, bila akan melanjutkan studi, setelah lulus D4 ke mana? Tidak ada pengaturan transfer pendidikan dari D4 ke S1 Keperawatan.

Banyak lulusan D4 Perawat Pendidik Undip (sekarang sudah ditutup) harus melanjutkan ke S1 Keperawatan dengan D3 Keperawatanya.

Perbedaan pandangan antara elite PPNI yang berhak mengatur jenis dan jenjang pendidikan perawat dengan pemerintah sebagai penyelenggara pendidikan D4 Keperawatan, perlu diselesaikan. PPNI memperjuangkan idealisme dan profesionalisme agar pengakuan dan eksistensi profesi itu meningkat di mata profesi lain dan masyarakat.

Sementara itu, pemerintah memiliki Politeknik Kesehatan (Poltekes) di banyak provinsi yang mewarnai kualitas perawat kita, meskipun keberadaan Poltekes yang dikelola oleh Departemen Kesehatan tersebut bukan lagi sebagai pendidikan kedinasan yang diamanatkan oleh UU.

Perbedaan semakin nyata, ketika ada keinginan bahwa rekrutmen PNS di masa yang akan datang memprioritaskan lulusan D4 Keperawatan. Ke mana mahasiswa S1 Keperawatan setelah lulus? Mungkin itu yang diperjuangkan oleh Aliansi BEM S1 Keperawatan se-Indonesia. Arogansi masing-masing hanya akan memperburuk situasi yang akan memengaruhi pelayanan keperawatan.

Banyak profesi yang telah tumbuh dan berkembang dengan baik. Organisasi profesi mereka mengatur dengan baik profesinya. Sudah selayaknya profesi itu diberi kesempatan untuk berkembang pula menuju tatanan dan norma profesionalisme, agar daya saing SDM Keperawatan mampu berkompetisi dengan profesi lain.(68)

— Edy Wuryanto, sekretaris umum PPNI Jawa Tengah, PR II Universitas Muhammadiyah Semarang.

Perkembangan keperawatan sebagai pelayanan profesional didukung oleh ilmu pengetahuan dan teknologi yang diperoleh dari pendidikan dan pelatihan yang terarah dan terencana.

Di Indonesia, keperawatan telah mencapai kemajuan yang sangat bermakna bahkan merupakan suatu lompatan yang jauh kedepan. Hal ini bermula dari dicapainya kesepakatan bersama pada Lokakarya Nasional Keperawatan pada bulan Januari 1983 yang menerima keperawatan sebagai pelayanan profesional (profesional service) dan pendidikan keperawatan sebagai pendidikan profesi (professional education).

Tenaga keperawatan yang merupakan jumlah tenaga kesehatan terbesar seyogyanya dapat memberikan kontribusi essensial dalam keberhasilan pembangunan kesehatan. Untuk itu tenaga keperawatan dituntut untuk dapat meningkatkan kemampuan profesionalnya agar mampu berperan aktif dalam pembangunan kesehatan khususnya dalam pelayanan keperawatan profesional.

Pengembangan pelayanan keperawatan profesional tidak dapat dipisahkan dengan pendidikan profesional keperawatan. Pendidikan keperawatan bukan lagi merupakan pendidikan vokasional/ kejuruan akan tetapi bertujuan untuk menghasilkan tenaga keperawatan yang menguasai ilmu keperawatan yang siap dan mempu melaksanakan pelayanan / asuhan keperawatan profesional kepada masyarakan. Jenjang pendidikan keperawatan bahkan telah mencapai tingkat Doktoral.

Keyakinan inilah yang merupakan faktor penggerak perkembangan pendidikan keperawatan di Indonesia pada jenjang pendidikan tinggi, yang sebenarnya telah dimulai sejak tahun 1962 yaitu dengan dibukanya Akademi Keperawatan yang pertama di Jakarta. Proses ini berkembang terus sejalan dengan hakikat profesionalisme keperawatan.

Dalam Lokakarya Keperawatan tahun 1983, telah dirumuskan dan disusun dasar-dasar pengembangan Pendidikan Tinggi Keperawatan. Sebagai realisasinya disusun kurikulum program pendidikan D-III Keperawatan, dan dilanjutkan dengan penyusunan kurikulum pendidikan Sarjana (S1) Keperawatan.

Pendidikan tinggi keperawatan diharapkan menghasilkan tenaga keperawatan profesional yang mampu mengadakan pembaruan dan perbaikan mutu pelayanan / asuhan keperawatan, serta penataan perkembangan kehidupan profesi keperawatan.

Pendidikan tinggi keperawatan diharapkan menghasilkan tenaga keperawatan professional yang mampu mengadakan pembaharuan dan perbaikan mutu pelayanan/asuhan keperawatan, serta penataan perkembangan kehidupan profesi keperawatan.

Keperawatan sebagai suatu profesi, dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawab pengembanggannya harus mampu mandiri. Untuk itu memerlukan suatu wadah yang mempunyai fungsi utama untuk menetapkan, mengatur serta mengendalikan berbagai hal yang berkaitan dengan profesi seperti pengaturan hak dan batas kewenangan, standar praktek, standar pendidikan, legislasi, kode etik profesi dan peraturan lain yang berkaitan dengan profesi keperawatan.

Diperkirakan bahwa dimasa datang tuntutan kebutuhann pelayanan kesehatan termasuk pelayanan keperawatan akan terus meningkat baik dalam aspek mutu maupun keterjangkauan serta cakupan pelayanan. Hal ini disebabkan meningkatkan kesadaran masyarakat akan kesehatan yang diakibatkan meningkatnya kesadaran masyarakat secara umum, dan peningkatan daya emban ekonomi masyarakat serta meningkatnya komplesitas masalah kesehatan yang dihadapi masyarakat. Masyarakat semakin sadar akan hukum sehingga mendorong adanya tuntutan tersedianya pelayanan kesehatan termasuk pelayanan keperawatan dengan mutu yang dapat dijangkau seluruh lapisan masyarakat. Dengan demikian keperawatan perlu terus mengalami perubahan dan perkembangan sejalan dengan perubahan yang terjadi diberbagai bidang lainnya.

Perkembangan keperawatan bukan saja karena adanya pergeseran masalah kesehatan di masyarakat, akan tetapi juga adanya tekanan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi keperawatan serta perkembangan profesi keperawatan dalam menghadapi era globalisasi.

Dalam memnghadapi tuntutan kebutuhan dimasa datang maka langkah konkrit yang harus dilakukan antara lain adalah : penataan standar praktek dan standar pelayanan/asuhan keperawatan sebagai landasan pengendalian mutu pelayanan keperawatan secara professional, penataan sistem pemberdayagunaan tenaga keperawatan sesuai dengan kepakarannya, pengelolaan sistem pendidikan keperawatan yang mampu menghasilkan keperawatan professional serta penataan sistem legilasi keperawatan untuk mengatur hak dan batas kewenangan, kewajiban, tanggung jawab tenaga keperawatan dalam melakukan praktek keperawatan.

Dewasa ini tuntutan masyarakat terhadap kualitas pelayanan kesehatan, termasuk pelayanan keperawatan semakin meningkat. Masyarakat semakin tahu apa yang menjadi haknya, masyarakat semakin cerdas karena banyaknya informasi yang dapat diperoleh melalui berbagai media informasi. Disamping itu tingkat pendidikan dan kebudayaan masyarakat semakin tinggi sehingga masyarakat semakin sadar akan harkat dan martabatnya serta sadar akan hak dan kewajibannya.

Kecenderungan tersebut seharusnya menjadi pemicu bagi profesi perawat untuk meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan. Pelayanan keperawatan mencerminkan kualitas pelayanan kesehatan pada umumnya karena selama 24 jam pasien diasuh oleh perawat sehingga semua data pasien, mulai dari pengkajian, tindakan dan evaluasi perkembangan diketahui oleh perawat. Namun seringkali data tersebut tidak dioptimalkan untuk kepentingan perawat, tapi justru perawat lebih sering mengumpulkan data untuk dipakai profesi lain. Padahal penghargaan dari profesi lain akan muncul saat perawat mampu memanfaatkan informasi pasien untuk melaksanakan praktek keperawatan mandiri maupun kolaboratif.

Ada satu tahap penting proses keperawatan yang sering terabaikan yaitu dokumentasi keperawatan. Dokumentasi keperawatan merupakan pencatatan semua kegiatan asuhan keperawatan yang telah dilaksanakan terhadap pasien. Dokumentasi keperawatan mengandung informasi yang diperlukan untuk mengembangkan asuhan keperawatan agar lebih berkualitas. Banyak manfaat yang dapat diambil dari dokumentasi keperawatan yang baik, misalnya dokumentasi keperawatan dapat menjadi bukti hukum, akreditasi, pencapaian angka kredit, audit profesi dan informasi bagi manajemen keperawatan untuk meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan. Namun sayang, dokumentasi keperawatan belum dilaksanakan dengan sepenuh hati.

Alasan klise yang sering kali muncul adalah kurang tenaga sehingga kurang waktu untuk mendokumentasikan asuhan, menulis membutuhkan waktu yang lama karena dokumentasi asuhan keperawatan banyak sekali. Pasien yang mempunyai satu diagnose medis dapat mempunyai beberapa diagnose keperawatan, setiap diagnose keperawatan harus dituliskan lengkap mencakup diagnose, data yang menunjang diagnose, tujuan, intervensi, implementasi, evaluasi dan catatan perkembangan pasien dari waktu ke waktu. Memang banyak sekali yang harus dituliskan, tentunya juga akan membutuhkan banyak waktu.

Tapi akankah menyerah begitu saja? Tentu tidak, ada banyak solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut. Misalnya dengan menerapkan teknologi informasi. Saat ini teknologi informasi kesehatan berkembang dengan sangat pesat, bahkan ada beberapa rumah sakit besar/swasta yang telah menerapkan konsep paperless untuk mempercepat komunikasi data serta untuk alas an efektivitas dan efisiensi. Bukan tidak mungkin teknologi informasi diterapkan dalam melaksanakan dokumentasi keperawatan.

Belajar dari Rumah Sakit Banyumas yang telah mencoba menerapkan teknologi informasi dalam keperawatan, tentunya ini memberikan secercah harapan untuk pengembangan lebih lanjut. Mudah-mudahan tidak berhenti dengan segala hambatan dan tantangan.

Bila dikaji lebih jauh, ternyata hampir semua aspek kegiatan keperawatan meliputi pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi dapat diefektifkan dengan pemanfaatan teknologi informasi.

By : Arif WR

Definisi

Ensefalitis adalah infeksi jaringan otak oleh berbagai macam mikro-organisme (Anonim, 1985).

Ensefalitis ditegakkan melalui pemeriksaan mikroskopis jaringan otak. Dalam prakteknya di klinik, diagnosis sering dibuat berdasarkan manifestasi-manifestasi neurologis dan temuan-temuan epidemiologis, tanpa bahan histologis. (Nelson, 1992).

Ensefalitis adalah penyakit viral yang bersifat zoonosis dan menyebabkan peradangan otak pada manusia usia muda (5 – 9 tahun) yang ditularkan melalui vektor nyamuk.

ETIOLOGI

Berbagai macam mikroorganisme dapat menimbulkan ensefalitis, misalnya bakteria,protozoa,cacing,jamur,dan virus. Penyebab yang terpenting dan tersering adalah virus. Infeksi dapat terjadi karena virus langsung menyerang otak atau reaksi radang akut karena infeksi sistemik atau vaksinasi terdahulu. Berbagai jenis virus dapat menimbulkan ensefalitis, meskipun gejala klinisnya sama. Sesuai dengan jenis virus serta epidemiologinya, diketahui berbagai macam ensefalitis virus.

Klasifikasi yang diajukan oleh Robin dalam buku Ilmu Kesehatan Anak, Nelson 1992 ialah :

1.      Infeksi virus yang bersifat epidemik

a.       Golongan enterovirus : poliomyelitis, virus Coxsackie, virus ECHO.

b.      Golongan virus ARBO : Western equine encephalitis, St. Louis encephalitis, Eastern equine encephalitis, Japanese B encephalitis, Russian springsummer encephallitis, Murray valley encephalitis

2.      Infeksi virus yang bersifat sporadik : Rabies, Herpes simplex, Herpes zoster, Limfogranuloma dan jenis lain yang dianggap disebabkan oleh virus tetapi belum jelas

3.      Ensefalitis pasca infeksi : pasca morbili, pasca varisella, pasca rubela, pasca vaksinia, pasca mononukleous infeksious dan jenis-jenis  yang mengikuti infeksi traktus respiratorius yang tidak spesifik

Meskipun di Indonesia secara klinis dikenal banyak kasus ensefalitis tetapi baru Japanese B encephalitis yang ditemukan.

Tanda dan Gejala

Trias ensefalitis terdiri dari demam, kejang dan kesadaran menurun.

Gejala yang umum terjadi mencakup :

  • sakit kepala parah, pusing
  • demam
  • perasaan mengantuk
  • kejang, kedutan otot, kadang – kadang lengan dan kaki menjadi lumpuh.
  • gemetar
  • pada anak – anak terjadi sawan
  • bingung
  • kaku kuduk
  • muntah – muntah
  • mual
  • lelah, rentan hati, mengantuk,
  • koma kalau kejadiannya parah

Meskipun penyebabnya berbeda-beda, gejala klinis ensefalitis lebih kurang sama dan khas sehingga dapat digunakan sebagai kriteria diagnosis. Umumnya didapatkan suhu yang mendadak naik, seringkali ditemukan hiperpireksia, kesadaran dengan cepat menurun. Anak yang besar, sebelum kesadaran menurun sering mengeluh nyeri kepala. Muntah juga sering ditemukan. Kejang-kejang dapat bersifat umum atau fokal. Kejang dapat berlangsung berjam-jam. Gejala serebrum yang beraneka ragam dapat timbul sendiri-sendiri atau bersama-sama, misalnya paresis atau paralisis, afasia dan sebagainya.

Manifestasi klinik ensefalitis bakterial, pada permulaan terdapat gejala yang tidak khas seperti infeksi umum, kemudian timbul tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial yaitu nyeri kepala, muntah-muntah, nafsu makan tidak ada, demam, penglihatan kabur, kejang umum atau fokal dan kesadaran menurun.

Pada ensefalitis viral gejala-gejala awal nyeri kepala ringan, demam, gejala infeksi saluran nafas atas atau gastrointestinal selama beberapa hari kemudian muncul tanda-tanda radang SSP seperti kaku kuduk, tanda kernig’s positif, gelisah, lemah dan sukar tidur. Defisit neurologik yang timbul bergantung pada tempat kerusakan. Selanjutnya kesadaran mulai menurun sampai koma, dapat terjadi kejang fokal atau umum, hemiparesis, gangguan koordinasi, kelainan kepribadian, disorientasi, gangguan bicara dan gangguan mental (Harsono, 1996).

Pada ensefalitis rangkaian peristiwa yang terjadi berbeda-beda, sesuai dengan agen penyakit dan pejamu. Pada umumnya virus ensefalitis termasuk sistem limfatik,didalam sistem limfatik ini terjadi perkembangbiakan dan penyebaran ke dalam aliran darah yang mengakibatkan infeksi pada beberapa organ. Pada stadium ini (fase ekstraneural), ditemukan penyakit demam nonpleura, sistemis, tetapi jika terjadi perkembangbiakan lebih lanjut dalam organ yang terserang, terjadi pembiakan dan penyebaran virus sekunder dalam jumlah besar. Invasi ke susunan saraf pusat akan diikuti oleh bukti klinis adanya penyakit neurologis.
Kemungkinan besar kerusakan neurologis disebabkan oleh

(1) invasi langsung dan destruksi jaringan saraf oleh virus yang berproliferasi aktif

(2) reaksi jaringan saraf terhadap antigen-antigen virus.

Perusakan neuron mungkin terjadi akibat invasi langsung virus, sedangkan respon jaringan pejamu yang hebat mungkin mengakibatkan demielinisasi, kerusakan pembuluh darah dan perivaskular. Kerusakan pembuluh darah mengakibatkan gangguan peredaran darah. Penentuan besarnya kerusakan susunan saraf pusat yang ditimbulkan langsung oleh virus dan bagaimana menggambarkan banyaknya perlukaan yang diperantarai oleh kekebalan, mempunyai implikasi teraupetik, agen-agen yang membatasi multiplikasi virus diindikasikan untuk keadaan pertama dan agen-agen yang menekan respons kekebalan selular pejamu digunakan untuk keadaan lain. (Nelson, 1992).
Pada ensefalitis bakterial, organisme piogenik masuk ke dalam otak melalui peredaran darah, penyebaran langsung, komplikasi luka tembus. Penyebaran melalui peredaran darah dalam bentuk sepsis atau berasal dari radang fokal di bagian lain di dekat otak. Penyebaran langsung dapat melalui tromboflebitis, osteomielitis, infeksi telinga bagian tengah dan sinus paranasalis.
Mula-mula terjadi peradangan supuratif pada jaringan otak. Biasanya terdapat di bagian substantia alba, karena bagian ini kurang mendapat suplai darah. Proses peradangan ini membentuk eksudat, trombosis septik pada pembuluh-pembuluh darah dan agregasi leukosit yang sudah mati.
Di daerah yang mengalami peradangan tadi timbul edema, perlunakan dan kongesti jaringan otak disertai peradangan kecil. Di sekeliling abses terdapat pembuluh darah dan infiltrasi leukosit. Bagian tengah kemudian melunak dan membentuk ruang abses. Mula-mula dindingnya tidak begitu kuat, kemudian terbentuk dinding kuat membentuk kapsul yang konsentris. Di sekeliling abses terjadi infiltrasi leukosit PMN, sel-sel plasma dan limfosit. Abses dapat membesar, kemudian pecah dan masuk ke dalam ventrikulus atau ruang subarakhnoid yang dapat mengakibatkan meningitis. (Harsono, 1996). Proses radang pada ensefalitis virus selain terjadi jaringan otak saja, juga sering mengenai jaringan selaput otak. Oleh karena itu ensefalitis virus lebih tepat bila disebut sebagai meningo ensefalitis. (Arif, 2000)
Pada ensefalitis terdapat kerusakan neuron kemudian terjadi intracellular inclusion bodies, peradangan otak dan medulla spinalis serta edema otak. Terdapat juga peradangan pada pembuluh-pembuluh darah kecil, trombosis dan proliferasi astrosit dan mikroglia. Neuron yang rusak dimakan oleh makrofag disebut neurofagia yang khas bagi ensefalitis primer. (Harsono, 1996).

Pemeriksaan Diagnosis

a.       Hal-hal penting dalam menegakkan diagnosis ensefalitis adalah :
1. Panas tinggi, nyeri kepala hebat, kaku kuduk, stupor, koma, kejang dan gejala

gejala kerusakan SSP.
2. Pada pemeriksaan cairan serebro spinal (CSS)

3. Isolasi virus dari darah, CSS atau spesimen post mortem (otak dan darah)
4. Identifikasi serum antibodi

Sebaiknya diagnosis ensefalitis ditegakkan dengan :
a. Anamnesis yang cermat, tentang kemungkinan adanya infeksi akut atau kronis, keluhan, kemungkinan adanya peningkatan tekanan intra kranial, adanya gejala, fokal serebral/serebelar, adanya riwayat pemaparan selama 2-3 minggu terakhir terhadap penyakit melalui kontak, pemaparan dengan nyamuk, riwayat bepergian ke daerah endemik dan lain-lain (Nelson, 1992)
b. Pemeriksaan fisik/neurologik, perlu dikonfirmasikan dengan hasil anamnesis dan sebaliknya anamnesis dapat diulang berdasarkan hasil pemeriksaan.
- Gangguan kesadaran
- Hemiparesis
- Tonus otot meninggi
- Reflek patologis positif
- Reflek fisiologis meningkat
- Klonus
- Gangguan nervus kranialis
- Ataksia (Komite Medik RSUP Dr. Sarjito, 2000)

b.      Pemeriksaan laboratorium
• Pungsi lumbal. Pada ensefalitis virus umumnya cairan serebro spinal jernih, jumlah lekosit berkisar antara nol hingga beberapa ribu tiap mili meter kubik. Kadar protein meningkat sedang atau normal. kadar gulanya normal.

  • Darah

- Al (angka lekosit) : normal/meninggi tergantung etiologi
- Hitung jenis : normal/dominasi sel polimorfenuklear
- Kultur : 80-90 % positif (Komite Medik RSUP Dr. Sardjito, 2000)

c.       Pemeriksaan pelengkap

  • Isolasi virus

Virus terdapat hanya dalam darah pada infeksi dini. Biasanya timbul sebelum munculnya gejala. Virus diisolasi dari otak dan diidentifikasi dengan tes-tes serologik dengan antiserum yang telah diketahui.
• Serologi : uji fiksasi komplemen, uji inhibisi hemaglutinasi, dan uji neutralisasi. Pemeriksaan serologi dilakukan untuk memastikan bahwa penyebabnya adalah virus.
• EEG: hasilnya abnormal, Sering menunjukkan aktifitas listrik yang merendah yang sesuai dengan kesadaran yang menurun
• CT scan kepala dan MRI kepala dilakukan untuk mengetahui adanya perdarahan atau pembengkakan otak.
Pengobatan

Obat antikonvulsif diberikan segera untuk memberantas kejang. Tergantung dari kebutuhan obat diberikan intramuskuler atau intravena. Obat yang biasa diberikan ialah valium atau luminal. Kortikosteroid (misalnya prednison) digunakan untuk mengurangi pembengkakan otak dan peradangan. Segera dilakukan pemasangan infus dan jenis cairan yang diberikan tergantung keadaan anak.

Untuk mengatasi hiperpireksia, diberikan surface cooling dengan menempatkan es pada permukaan tubuh yang mempunyai pembuluh besar, misalnya pada kiri dan kanan leher, ketiak, selangkangan, daerah proksimal betis dan diatas kepala. Dapat juga diberikan antipiretik seperti asetol atau parasetamol bila keadaan telah memungkinkan pemberian obat peroral. Beberapa klinik memberikan kortikosteroid intramuskuler atau intravena untuk menghilangkan edema sel otak (diberikan dalam dosis tinggi).

Penatalaksanaan
Penderita baru dengan kemungkinan ensefalitis harus dirawat inap sampai menghilangnya gejala-gejala neurologik. Tujuan penatalaksanaan adalah mempertahankan fungsi organ dengan mengusahakan jalan nafas tetap terbuka, pemberian makanan enteral atau parenteral, menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit dan koreksi gangguan asam basa darah (Arif, 2000). Tata laksana yang dikerjakan sebagai berikut :
1. Mengatasi kejang adalah tindakan vital, karena kejang pada ensefalitis biasanya berat. Pemberian Fenobarbital 5-8 mg/kgBB/24 jam. Jika kejang sering terjadi, perlu diberikan Diazepam (0,1-0,2 mg/kgBB) IV, dalam bentuk infus selama 3 menit.
2. Memperbaiki homeostatis, dengan infus cairan D5 – 1/2 S atau D5 – 1/4 S (tergantung umur) dan pemberian oksigen.
3. Mengurangi edema serebri serta mengurangi akibat yang ditimbulkan oleh anoksia serebri dengan Deksametason 0,15-1,0 mg/kgBB/hari i.v dibagi dalam 3 dosis.
4. Menurunkan tekanan intrakranial yang meninggi dengan Manitol diberikan intravena dengan dosis 1,5-2,0 g/kgBB selama 30-60 menit. Pemberian dapat diulang setiap 8-12 jam. Dapat juga dengan Gliserol, melalui pipa nasogastrik, 0,5-1,0 ml/kgbb diencerkan dengan dua bagian sari jeruk. Bahan ini tidak toksik dan dapat diulangi setiap 6 jam untuk waktu lama.
5. Pengobatan kausatif.
Sebelum berhasil menyingkirkan etilogi bakteri, terutama abses otak (ensefalitis bakterial), maka harus diberikan pengobatan antibiotik parenteral. (Nelson, 1992) Pengobatan untuk ensefalitis karena infeksi virus herpes simplek diberikan Acyclovir intravena, 10 mg/kgbb sampai 30 mg/kgbb per hari selama 10 hari. Jika terjadi toleransi maka diberikan Adenine arabinosa (vidarabin). Begitu juga ketika terjadi kekambuhan setelah pengobatan dengan Acyclovir (Bradley, 1991). Dengan pengecualian penggunaan Adenin arabinosid kepada penderita ensefalitis oleh herpes simplek, maka pengobatan yang dilakukan bersifat non spesifik dan empiris yang bertujuan untuk mempertahankan kehidupan serta menopang setiap sistem organ yang terserang. Efektivitas berbagai cara pengobatan yang dianjurkan belum pernah dinilai secara objektif (Nelson, 1992).
6. Fisioterapi dan upaya rehabilitatif setelah penderita sembuh
7. Makanan tinggi kalori protein sebagai terapi diet.
8. Lain-lain, perawatan yang baik, konsultan dini dengan ahli anestesi untuk mengantisipasi kebutuhan pernapasan buatan

Gejala Sisa dan komplikasi
Gejala sisa maupun komplikasi karena ensefalitis dapat melibatkan susunan saraf pusat dapat mengenai kecerdasan, motoris, psikiatris, epileptik, penglihatan dan pendengaran, sistem kardiovaskuler, intraokuler, paru, hati dan sistem lain dapat terlibat secara menetap (Nelson, 1992).
Gejala sisa berupa defisit neurologik, hidrosefalus maupun gangguan mental sering terjadi (Harsono, 1996). Komplikasi pada bayi biasanya berupa hidrosefalus, epilepsi, retardasi mental karena kerusakan SSP berat (Kempe, 1982).

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!


    • Mr WordPress: Hi, this is a comment.To delete a comment, just log in, and view the posts' comments, there you will have the option to edit or delete them.

    Archives

    Follow

    Get every new post delivered to your Inbox.